Usaha pengendalian nyamuk vektor demam berdarah, Aedes aegypti dengan pengembangan riset fusan bakteri entomopatogen

Penulis artikel: Siti Sumarmi 1, S. Margino 2, S.J. Mardihusodo

  1. Fakultas Biologi UGM.
  2. Pusat Studi Pengendalian Hayati/Fakultas Pertanian, UGM
  3. Pusat Studi Pengendalian Hayati./Fakultas Kedokteran, UGM

Penggunaan insektisida kimiawi dalam waktu yang lama  untuk pengendali nyamuk vektor penyakit telah terbukti menimbulkan banyak masalah di lingkungan. Kenyataan ini telah mengubah pikiran banyak pakar dan penanggungjawab pembuat kebijakan untuk mencari pilihan diantara banyak metode pengendalian yang  lebih spesifik, dan lebih aman, seperti cara sanitasi lingkungan, pemanfaatan agensia hayati, rekayasa genetik secara terpadu,

Pada dua dasa warsa terakhir salah satu pilihan yang mendapat perhatian adalah cara pengendalian vektor penyakit menggunakan agensia hayati yang bertindak sebagai penyakit serangga. Salah satu jenis bakteri penyebab penyakit serangga terutama anggota ordo Diptera adalah   Bacillus. thuringiensis  var. israelensis (Bti) H-14 yang telah  banyak dimanfaatkan di bidang kesehatan.

Dukungan perkembangan biologi molekuler dengan teknik fusi protoplas dari dua strain Bt. var. israelensis dan Bt. var. kurstaki  yang merupakan bakteri penyebab penyakit pada serangga anggota ordo Lepidoptera telah dihasilkan 23 fusan Bt. yang diharapkan dapat diaplikasikan di bidang kesehatan dan pertanian

Penyakit DBD (demam berdarah dengue) atau malaria sudah lama berjangkit di Indonesia, beberapa kota besar menjadi daerah endemi akut/ menahun dan memiliki angka mortalitas tinggi. Pertama kali eksplosif DBD dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta tahun 1968,  di Jakarta jumlah kasus 53 dan 24 diantaranya meninggal. Dua puluh tahun berikutnya, 1988, sebanyak 201 dari 304  kabupaten terjangkit DBD dengan total kasus 44.573 dan 1527 meninggal. Liputan 6 SCTV tangal 1 Februari 2004 menginformasikan bahwa penderita DBD nasional dari Januari – 1 Maret 2004  mencapai 19.701 dan korban yang meninggal 362 orang. Pada saat eksplosif DBD, pengendaliannya masih banyak menggunakan DDT/ Malathion, Diazinon,  atau pestisida berbahan aktif Chlor (Cl) lain. Pengendalian secara  kuratif terhadap vektor DBD hanya memamtikan nyamuk namun tidak membunuh larva atau larva nyamuk. Selain itu, jenis insektisida ini terkenal menimbulkan  pencemaran terhadap lingkungan, produk pertanian, dan gangguan kesehatan manusia maupun hewan. Dampak negatif lain  dan lebih berbahaya adalah munculnya resistensi nyamuk vektor DBD dan malaria. Karenanya penggunaan insektisida ini di bidang kesehatan seharusnya sudah dilarang mengingat di sektor pertanianpun sudah dilarang sejak 1986.

Alternatif penyempurnaan pengendalian nyamuk DBD yakni memanfaatkan bioinsektisida (insektisida hayati) baik yang berasal dari mikroba, ikan kecil, udang kecil atau tumbuhan sebagai agensiaia pengendalian larva vektor. Bacillus sphaericus, Bti  H-14 beberapa macam tumbuhan seperti mimba, mindi, lavender, dan beberapa mesocyclop (udang kecil) dan ikan kepala timah,  sudah banyak dimanfaatkan. Pertimbangan lain dari segi industri, ekonomi, dan aplikasi di lapangan pemanfaatan mikroba, khususnya B. sphaericus atau Bt. var. Israelensis.

Hasil dari penelitian 23 fusan Bt. an Btk.) terhadap larva nyamuk demam berdarah (Aedes aegpyti). tampak bahwa masing-masing memiliki patogenisitas yang berbeda. Hal ini ditunjukkan dengan nilai LC 50 dan LC 95 yang berbeda-beda. Bakteri Bti yang telah diketahui efektif untuk pengendalian nyamuk, dalam penelitian terhadap larva nyamuk instar II memiliki nilai LC 50 dan LC 95 masing-masing sebesar 5.37 x 10 4 spora bakteri/ml dan 1.15 x 10 5 spora bakteri/ml terhadap larva instar II. Apabila dibandingkan dengan Bti, fusan yang diujikan dalam penelitian ini ternyata sangat efektif untuk nyamuk demam berdarah. Hal ini dapat dilihat dari nilai LC 50 dan LC 95 fusan yang  jauh lebih tinggi dibanding Bti seperti yang dapat dilihat dalam Tabel 1.

Dibandingkan dengan Bti, fusan yang paling mendekati efektifitas sebagai agensia pengendali nyamuk demam berdarah adalah fusan F 28 yang memiliki nilai LC 50 dan nilai LC 95 masing-masing sebesar 8.32 x 10 5 dan 1.12 x 10 10 bakteri/ml. tampaknya fusan F28 ini memiliki karakter yang mendekati karakter toksin yang dihasilkan Bti, sehingga memiliki patogenisitas yang tinggi. Fusan yang diujikan terhadap nyamuk ini juga menunjukkan adanya beberapa fusan yang tidak pathogen, seperti fusan F4, F6, F16, F18, F20, dan F23.

Fusan F28, F 31 dan F33 memiliki daya pathogen yang cukup tinggi dibandingkan dengan fusan yang lain, dan yang paling mendekati dengan Bti. Nilai LC 50 dan LC 95 adalah fusan 28 dengan LC50 sebesar 5.49 x 10 5 bakteri/ml dan 1.19 x 10 9 bakteri/ml, sedangkan untuk Bti. Sebesar 5.49 x 10 4 bakteri/ml dan 4.07 x 10 5 bakteri/ml. Apabila dibandingkan dengan patogenisitas terhadap larva nyamuk instar II, Bti membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi untuk instar III. Hal ini disebabkan umur larva yang lebih tua memiliki daya tahan yang lebih tinggi terhadap toksin yang dihasilkan Bti, sedangkan untuk fusan F28 konsentrasi yang dibutuhkan relative sama dengan instar III. Apabila dilihat dari  Tabel 2, terlihat  bahwa fusan bakteri F 31 (LC50 1.8 x 10 13) dan  F33 (LC50 8 x 108 ) mempunyai patogenisitas lebih rendah dari F28, tetapi kedua fusan mempunyai spektrum yang lebih lebar karena mempunyai efektivitas terhadap kedua hewan uji. Sehingga kedua fusan ini juga potensial untuk diteliti lebih lanjut.

Apabila dibandingkan dengan penelitian Blondine dkk.( 1999), yang menggunakan Bt H-14 terhadap larva nyamuk demam berdarah, dengan nilai LC 50 berkisar antara 5 x 10 5 hingga 13 x 10 6 bakteri/ml, fusan F28 yang diperoleh memiliki patogenisitas yang tinggi.

Pengembangan fusan bakteri yang potensial untuk pengendalian nyamuk, memiliki prospek yang cerah, karena lebih aman dibandingkan dengan penggunaan pestisida Temephos dalam Abate. Dari penelitian Mardihusodo (1991), diperoleh bahwa larva nyamuk demam berdarah telah mulai membentuk mekanisme resisten terhadap Temephos.

 

Artikel diedit oleh Sukirno 21 Juli 2017

Makalah telah dipresentasikan di Simposium Nasional Dinas Kesehatan, Jakarta (2010)

Pustaka

Blondine, Ch.P., R. Wianto, dan Sukarno, 1999. Pengendalian jentik nyamuk vector demam berdarah, malaria dan filariasis menggunakan strain local Bacillus thuringiensis H-14. Bulletin penelitian kesehatan 27 (1): 178-184

Mardihusodo, S.J., Soesanto, D. Widianto, S.R. Ummiyati, dan S. Sumarmi. 1991 Pengkajian Toksisitas Bacillus spp. – Hasil isolasi terhadap larva nyamuk di laboratorium.   Berkala Ilmu Kedokteran 13 (2):41-50