POTENSI LARVA PREDATOR, Toxorhinchites spelndens (DIPTERA: CULICIDAE), SEBAGAI PENGENDALI NYAMUK VEKTOR PENYAKIT Culex, Anopheles, dan Aedes

Penulis: RC Hidayat Soesilohadi

Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Gambar Toxorhynchites splendens dewasa (kiri) dan stadium larva (kanan) yang merupakan nyamuk predator terhadap jenis nyamuk lain (Gambar diperoleh dari ulpnet.com)

 

Toxorhynchites splendens dimasukkan ke dalam Ordo Diptera dan Familia Culicidae, dikenal dengan nama umum nyamuk toxor. Klasifikasi toxor adalah:

Domain                         : Eukaria

Kingdom                       : Animalia

Phylum                         :  Arthropoda

Clasis                           :  Insecta

Ordo                             :  Diptera

Family                          :  Culicidae

Genus                           :  Toxorhynchites

Species                        : Tx. splendens

 

Larva toxor memiliki ukuran jauh lebih besar daripada ukuran larva Aedes aegypti. Tx. splendens dewasa tidak haematophagous, sedangkan semua instar larvanya predator terhadap hewan-hewan avertebrata air (Rubio and Ayesta, 1984). Di antara hewan avertebrata air tersebut adalah larva Ae. aegypti. Secara alami Tx. splendens berbiak di tempurung tempurung, lubang-lubang· pohon dan artifisial kontainer. Distribusi Tx. splendens meliputi Srilanka, India, Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina dan New Guenia (Mac Donald, 1958).

Perilaku larva Tx. splendens dalam mempredasi larva Ae. aegypti dimulai dengan adanya gangguan di air, segera setelah !tu larva Tx. splendens mengarahkan mulutnya ke sumber stimulus. Bilamana mangsa sudah tertangkap, mangsa ditarik ke dasar kontainer selama 15 s.d. 30 detik, kemudian mangsa dibawa ke permukaan air lagi. Setelah larva Tx. splendens memangsa dua atau tiga ekor mangsa, tubuhnya membentuk huruf “S”. Gerakan in! kemungkinan untuk menekan makanan yang telah tertelan menuju ke saluran pencernaan belakang. Setelah gerakan tersebut larva Tx. splendens berelaksasi dan kembali ke posisi semula, membentuk sudut 15° dengan permukaan air (Rubio and Ayesta, 1984).

Dengan posisi larva Tx. splendens sebagai predator di habitat akuatik, maka larva Tx· splendens potensial digunakan sebagai agensia pengendali hayati yang akan mengurangi populasi Ae. aegypti (Bernal and Villaneuva, 1989). Pernyataan tersebut didukung oleh Riviere dan Pichon (1981) yang mengatakan bahwa bilamana larva Tx. splendens diintroduksi di suatu habitat perairan dan dapat teradaptasi,  akan dapat mereduksi 20 s.d. 35% populasi Ae. aegypti. Demikian pula semenjak tahun 1980, Tx. splendens telah diakui sebagai agensia pengendali hayati bagi larva Ae. aegypti oleh WHO  (WHO, 1980).

Larva Tx. splendens instar I, II, III, IV merupakan stadium pembunuh yang akan akan memangsa larva Ae. aegypti, baik instar I, II, III, maupun IV, akan tetapi juga mempredasi stadium larvva Tx. splendens. Fenomena ini disebabkan selain larva Tx. splendens sebagai predator, juga mempunyai sifat predasi intraspesifik atau sifat kanibal, dan perilaku ini ada pada semua instar larvanya. Predasi intraspesif lebih sering terjadi bilamana jumlah mangsa tidak mencukupi (Rubio and Ayesta, 1984; Riviere and Pichon , 1981).

Di laboratorium diketahui bahwa laju harian larva toxor dalam mempredasi larva Ae. Aegypti adalah 21,6 ± 0,41 larva/hari (Soesilohadi, 1991). Selanjutnya disampaikan bahwa laju predasi intraspesifik larva toxor merupakan fungsi dari luas kontainer pemeliharaan, dengan model matematikanya Y = 7,346 – 0,03/X . Model persamaan tersebut menunjukkan bahwa predasi intraspesifik tidak dapat dihilangkan akan tetapi dapat dikurangi dengan semakin memperluas kontainer pemeliharaan. Selain itu dilaporkan juga laju predasi intraspesifik larva toxor tergantung besaran populasi larva Ae. aegypti

Artikel diedit oleh: Sukirno pada tanggal 3 September 2017

Pustaka

Bernal, H.C.A. and F.R. Villaneuva, 1989. Diurnal pattern and behavviour of ovipositions of Toxorhynchites theobaldi in fiels. J. Am. Mosq. Cont. Assos. 5(1): 25-28.

Riviere F. and G. Pichon. 1981. Laboratory and field studies of Toxorhynchites amboinensis (Doleshall) as biological control agen in Tahiti. Entomologistes Mediaux: 1-8.

Rubio, Y. and C. Ayesta. 1984. Laboratoty observation on the biology of Toxorhyncchites theobaldi. Mos.News. 37(4): 664-667

Annonymous. 1980. Scientific working group. WHO. 58(3): 405-409

Soesilohadi, RCH. 1991. Penentuan Pendekatan Rasio Predator-Prey (Toxorhynchites spendens-Aedes aegypti)  yang akan mengurangi daya predasi intraspesifik. Lap. Penelitian. Fakultas Biologi UGM