MONITORING POPULASI HAMA WERENG COKLAT (Nilaparvata lugens Stal.) dan WERENG HIJAU (Nephotettix spp.) SERTA HAMA TANAMAN PADI LAINNYA BERSAMA DINAS PERTANIAN KABUPATEN KLATEN DI AREA PERSAWAHAN UPTD IV KABUPATEN KLATEN

Penulis: Teo Sukoco

Pembimbing: Dr. R.C. Hidayat Soesilohadi, M.S. 

Pembimbing Lapangan: Prayogo, SP. Krisdiyanto Aribowo, dan Romdhoni

Hama wereng merupakan hama utama tanaman padi dan tersebar luas di dunia. Di Indonesia populasi wereng sering ditemukan dalam jumlah yang tinggi yang dapat mengakibatkan keringnya tanaman padi atau disebut “hopperburn”. Tujuan dari Kerja Praktek ini adalah untuk mempelajari metode monitoring kemelimpahan populasi wereng batang coklat (Nilaparvata lugens Stal.) dan wereng batang hijau (Nephotettix spp.), serta OPT tanaman padi lainnya di area persawahan UPTD IV Kabupaten Klaten dan dampak yang ditimbulkan dari adanya OPT tersebut. Metode Pengamatan OPT yang digunakan adalah metode pengamatan secara langsung yang meliputi metode pengamatan tetap yang dilakukan secara berkala pada petak tetap (mewakili bagian terbesar wilayah pengamatan) serta pengamatan keliling untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi OPT dan musuh alami serta intensitas serangan. Setelah itu dilakukan penilaian dan pelaporan kerusakan. Dari hasil monitoring menunjukkan telah terjadi ledakan Wereng Batang Coklat di Kabupaten Klaten yang meliputi Kecamatan Gantiwarno, Wedi dan Jogonalan. Wereng batang coklat dapat menyebabkan daun berubah menjadi berwarna kuning oranye sebelum menjadi coklat dan mati. Dalam keadaan populasi wereng yang tinggi dan varietas yang ditanam rentan wereng batang coklat dapat mengakibatkan tanaman seperti terbakar atau “hopperburn”. Wereng batang hijau dapat menularkan penyakit virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput yang sangat merusak Metode monitoring dan pengendalian Wereng Batang Coklat, wereng batang hijau serta OPT lainnya dari Dinas Pertanian selama ini kurang efektif karena setiap satu kecamatan hanya di awasi oleh satu orang petugas dari Dinas Pertanian. Alangkah baiknya jika petugas lapangan ditambah sehingga mempermudah dalam memonitoring persebaran wereng.

Swasembada pangan mempunyai posisi penting dan strategis dalam memelihara pemantapan dan ketahanan nasional. Oleh karena itu penyediaan pangan yang cukup dan terlanjutkan merupakan salah satu sasran utama dalam rencana pembangunan pertanian nasional. Berbagai upaya dalam pelestarian dan peningkatan swasembada pangan, khususnya beras yang telah tercapai pada tahun 1984, selalu dihadapakan pada berbagai faktor kendala penghambat (Soenarjo dkk,1991).

Salah satu kendala yang berhubungan erat dengan peningkatan produksi beras adalah hama wereng. Beberapa jenis wereng merupakan hama utama padi dan tersebar luas di dunia. Di Indonesia populasi wereng sering ditemukan dalam jumlah yang tinggi yang dapat mengakibatkan keringnya tanaman padi atau disebut “hopperburn” jenis wereng yang sangat merusak dalah wereng coklat (Nilavarpata lugens) dari Familia Delphacidae dan wereng hijau (Nephotettix spp.) dari Familia Cicadellidae (Syahrawati dkk, 2010). Hama wereng ini selain merusak langsung dengan menghisap cairan tanaman dengan alat mulut yang khusus untuk menusuk dan menghisap, juga sebagai vektor yang dapat menularkan penyakit virus. Penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa ditularkan oleh wereng coklat dan penyakit kerdil padi, kerdil padi kuning, tungro, penyakit merah, serta transitory yellowing ditularkan oleh wereng hijau. Bila populasi wereng yang menghisap cairan makanan ini tinggi maka tanaman padi menjadi layu dan mati kering/ hopperburn. Pengendalian hama/penyakit dengan suatu cara pendekatan (ad hoc approach), seperti penggunaan pestisida saja, terbukti tidak cukup dan sering kurang berhasil. Didaerah-daerah eksplosi wereng coklat misalnya, meskipun penyemprotan telah dilakukan tiap 2 atau 3 hari sekali hingga puluhan kali semprot hasilnya kurang memuaskan. Hal tersebut dapat disebabkan karena, hama wereng mungkin sudah menjadi resisten, terjadi resurgensi hama tersebut, matinya parasit atau predator (musuh-musuh alami), dan cara-cara penyemprotan yang kurang baik (Oka dan Bahagiawati, 1991).

Bila dilakukan dengan jenis, waktu, dan cara yang tepat, penggunaan pestisida akan berhasil dengan baik. Tetapi ketergantungan kepada pestisida saja perlu dihindari, karena penggunaan pestisida yang banyak akan memperbesar resiko pencemaran lingkungan dan keracunan manusia. Selain itu, untuk negaranegara yang sedang berkembang salah satunya Indonesia harga pestisida masih terlalu mahal bagi petani (Oka dan Bahagiawati, 1991).

Diedit oleh: Sukirno pada 17 Oktober 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.